twitter bird

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Dinsdag 29 April 2014

Penyebab gangguan siaran pada Parabola TV dan VSAT


Penyebab gangguan siaran pada Parabola TV dan VSAT
Penyebab gangguan siaran pada Parabola TV dan VSAT. Satu hal yang sangat penting untuk selalu harus dipenuhi adalah bahwa informasi yang dikirimkan dapat diterima ditempat lain dengan baik tanpa cacat, sesuai informasi aslinya dan dengan waktu penyampaian yang cepat. Salah satu penyebab gangguan link pada komunikasi satelit adalah gangguan interferensi. Interferensi pada sistem komunikasi satelit ialah diterimanya sinyal yang tidak diinginkan oleh pesawat penerima pada stasiun bumi atau satelit, yang berasal dari sistem lain dan mempunyai frekwensi yang sama. Interferensi ini terjadi jika bisa terjadi pada lintasan Uplink dan Downlink.
Beberapa kemungkinan interferensi yang terjadi pada sistem komunikasi satelit antara lain :

1. Sun Interference 
Sun interference
Seperti halnya bulan, maka pada suatu saat antara stasiun bumi, satelit dan matahari berada pada lintasan garis lurus. Sehingga frekwensi carrier yang dipancarkan oleh satelit akan terinterferensi oleh matahari, karena matahari sendiri fungsinya sebagai pemancar juga. Fenomena ini dalam komunikasi satelit dikenal dengan istilah SUNOUTAGE yang berlangsung maksimal selama 15 menit dan terjadi dua kali dalam setahun, untuk wilayah Indonesia pada umumnya terjadi pada bulan maret dan september, yang akan mengganggu lalulintas komunikasi data.

2. Intermodulasi
itermodulation product
Dalam pengoperasian stasiun bumi dimungkinkan untuk memancarkan beberapa carrier frekwensi yang di combine, kemudian di kuatkan dengan menggunakan sebuah High Power Amplifier (HPA) atau SSPA. Akibat dari sifat penguat yang tidak linear mengharuskan pengoperasian SSPA yang di Back-Off beberapa dB (minimal 7 dB), agar Intermodulation Product yang terjadi masih dalam batas 28 dBC down, atau minimal 28 dB bedanya (lebih baik lagi bila beda makin besar). Selain terjadi pada penguatan stasiun bumi, hal yang sama juga akan terjadi pada transponder satelit. Besarnya output backoff untuk palapa C adalah 4.5 dB dibawah titik saturasi. 

3. Interferensi Cross-Pol Kanal RF
interferensi cross pole
Bandwidth satelit adalah sumber daya yang terbatas, untuk meningkatkan kapasitasnya digunakan frekwensi re-use dengan kanal RF dipolarisasi orthogonal. Polarisasi yang digunakan pada satelit palapa C adalah polarisasi linear, dan ketentuan satelindo untuk besarnya isolasi Cross-Poll minimal adalah 30 dB (C/Xpol > 30 dB). Gambar disamping memperlihatkan adanya 3 carrier pada transponder dengan polarisasi horisontal akibat interferensi dari carrier tranposnder polarisasi vertikal. Dapat dipahami bahwa pengaturan isolasi Cross-Pol pada sebuah antena stasiun bumi sangatlah penting, karena cross pol yang tidak baik akan mengakibatkan carrier kita mengganggu carrier lain yang beroperasi pada polarisasi yang berbeda. Maka sewaktu instalasi dan pengarahan, pointing, peaking antena dan pengaturan OMT haruslah seteliti mungkin.

4. Interferensi Antar Satelit Yang Berdekatan
Interferensi ini diakibatkan oleh jarak antar satelit yang berdekatan (adjacent satelit) juga patern antena stasiun bumi yang tidak baik. Hal ini terjadi karena coverage dari satelit mempunyai cakupan daerah dan beroperasi pada frekwensi yang sama, sedangkan jarak satelit normalnya sekitar 20 . Oleh sebab itu untuk sistem komunikasi diharuskan menggunakan antena yang mempunyai spesifikasi side-lobe sebagai berikut :
G(φ) = 29 –25 log (Φ) ……………………………………..(2.1)
Dimana :
Φ = Sudut side-lobe antena
Dalam perhitungan interferensi antar satelit ada dua tipe yaitu interferensi Uplink dan interferensi Downlink. Interferensi antar satelit ini lebih disebabkan oleh sidelobe dari antena yang digunakan. Perhitungan interferensi antar satelit disimbulkan dengan C/Iadj
C/Iadj = G-29+25 Log (φ) ……………………………………(2.2)
Bila ada 2 satelit yang ada disebelahnya maka :
C/Iadj = G-29+25 Log (φ) – 3 ……….. ………………………(2.3)
Dimana :
G = Gain Antena (dBi),
Untuk C/Iadj Uplink menggunakan Gain Transmit antena
Untuk C/Iadj Downlink menggunakan Gain Receive antena
φ = Sudut jarak antar satelit , yaitu 2 derajat

5. Interferensi Oleh Transmisi Radio FM
Selain 70 Mhz, ada beberapa tipe perangkat VSAT (Modem dan U/D Converter) yang menggunakan setting center frekwensi IF-nya pada 140 Mhz dengan band frekwensi antara 104 - 176 MHz, seperti terlihat pada gambar dibawah.
band freq Radio FM
Dengan demikian memungkinkan sinyal radio FM masuk dalam sistem stasiun bumi melalui terminasi konektor, shielding dan grounding perkabelan yang tidak sempurna. Sinyal radio FM tersebut bila masuk dalam sisi transmit Up-Converter akan ikut serta ditransmisikan sebagai sinyal RF yang dipancarkan menuju ke satelit, seperti tampak pada gambar berikut
Interferensi Radio FM Pada Transponder Satelit

6. Interferensi Oleh Transmisi Gelombang Mikro Teresterial
Gelombang Mikro (microwave) merupakan gelombang elektromagnetik yang berfrekwensi tinggi, yang mempunyai panjang gelombang antara 1millimeter sampai 1 meter. Microwave menempati tiga band frekwensi yaitu band UHF(Ultra High Frekwensi) : 0,3 – 3 Ghz, band SHF(Super High Frekwensi), dan band EHF(Extremelly High Frekwensi) : 30 – 300 Ghz.
Interferensi Stasiun Bumi Akibat Jaringan Teresterial
Dalam pemilihan lokasi antena stasiun bumi, sering sekali mengabaikan kemungkinan gangguan (interferensi) transmisi gelombang mikro sekitarnya. Acapkali survey yang dilakukan hanya mencakup aspek antena dan path obstruction, tanpa disertai pendataan spektrum RF yang terdapat pada lokasi, atau gangguan lainnya yang ditimbulkan oleh mesin-mesin listrik, lalu-lintas kendaraan serta kemungkinan spurious dari pemancar radio (Siaran & omunikasi) yang terlalu kuat. Interferensi ini sering disebut sebagai Interferensi Lokal karena hanya terjadi disekitar stasiun bumi saja. Interferensi inilah yang terjadi pada PT.POSINDO SOLO sebagai bahan bahasan. Pada prakteknya banyak lokasi (antena) stasiun bumi yang sangat tidak memadai sehingga setelah semua selesai instalasi, dapat saja kwalitas penerimaannya buruk atau tidak dapat memenuhi spesifikasi tertentu, sering down atau sulit sinkronisasi, Bit Error Rate tinggi dan keluhan-keluhan lainnya.
Sangkar Faraday
Bila pada lokasi tersebut memang dialami Interferensi RF jenis tersebut, maka penanggulangannya akan sulit sekali . Beberapa cara penanggulangannya adalah dengan pemasangan Shielding (Sangkar Faraday) seperti yang ditunjukkan pada Gambar diatas atau me-relokasi antena dan bahkan pemindahan stasiun bumi.

Fungsi Satelit


Mengenal Fungsi Satelit
          Saat ini pertukaran informasi dapat berlangsung dengan cepat. Berita dari belahan dunia lain dengan cepat bisa didapatkan menggunakan televise ataupun internet, juga berbicara lewat telepon dengan orang yang jaraknya ribuan kilometer.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8pzw-27p38sdagwo9uYBzKVGcTbkPlgDkfAeh_JDhngebLd71w-2-asGYdPMjN4qdZ_tch3EO_oFW-aXIZtiGWjaLhKs65r9LSpyL_8mSdsu1ZxmlPmPqwdlAp79j5BTk4yEZFoChWK0/s320/satelit+Indonesia.JPG
                                                                Gambar. Satelit

         Hal tersebut menjadi mungkin karena adanya satelit yang ditempatkan di luar angkasa.Satelit adalah benda yang mengelilingi planet dengan periode revolusi dan rotasi tertentu dan memiliki orbit peredaran sendiri. Orbit  merupakan titik lintasan atau jalur peredaran satelit dalam mengelilingi sebuah planet. Dalam orbit terdapat dua istilah, yaitu apogee ( titik terjauh dengan bumi) dan perigee ( titik terdekat dengan bumi). Ada dua  jenis satelit yaitu satelit alami dan buatan. Satelit alami adalah benda-benda luar angkasa alami (bukan buatan manusia) yang mengorbit pada sebuah planet atau benda lain yang lebih besar daripada dirinya
.
        Salah satu contoh satelit alami yang dimiliki bumi adalah bulan. Adapun satelit buatan adalah benda buatan manusia yang diluncurkan ke luar angkasa dan beredar mengelilingi planet. Salah satu contoh satelit buatan yang dimiliki Indonesia adalah Satelit Palapa.

      Satelit buatan juga terdiri dari bermacam-macam jenis, tergantung dari fungsinya masing-masing. Contohnya satelit astronomi yang di gunakan untuk mengamati planet,galaksi dan benda luar angkasa liannya. Ada juga satelit komunikasi yang di angkasa dengan tujuan telekomunikasi. Jenis lainnya adalah satelit pengamat bumi yang dirancang khusus untuk mengamati bumi seperti pengamatan lingkungan, meteorology, pembuatan peta, dan lain sebagainya. Selain itu ada satelit navigasi yang menggunakan sinyal radio yang disalurkan ke penerima di permukaan tanah untuk menentukan lokasi sebuah titik di permukaan bumi seperti mengukur jarak antar bangunan, ada juga satelit mata-mata dan satelit cuaca untuk mengamati cuaca dan iklim di bumi. Sealin itu masih banyak lagi jeni-jenis satelit  buatan lainnya.
Sumber: Harian FAJAR, 30 Desember 2012 Hal 29

Prosedur Instalasi Modem Hughes HX50



Peralatan pendukung / Tools :
-          PC / Notebook dilengkapi dengan Port Ethernet LAN
-          Kabel LAN / UTP kabel RJ 45 Cross
-          Tools lengkap untuk pemasangan Instalasi Antena
  
http://prayitno.org/reload2/4/HX50_files/image002.jpg 















Ilustrasi Koneksi Modem ke PC ( Laptop ) :

http://prayitno.org/reload2/4/ilus.jpg 
     
1.                 












IP Default bawaan pabrik untuk modem Hughes HX50 adalah 192.168.0.1 / 255.255.255.252
Maka Set Ethernat LAN PC / Komputer anda dengan IP Address 192.168.0.2 Subnet Mask 255.255.255.252   , denagn Gateway 192.168.0.1 / IP Modem Hughes HX50 (seperti contoh dibawah)
Seting dengan Windows XP :
Masuk ke menu Control Panel – Network Conection – Local area conection.
Klik Properties – Internet Protocol ( TCP/IP ).
Masukan seting IP diatas seperti gambar dibawah ini :

http://prayitno.org/reload2/4/HX50_files/image004.jpg 














Klik Start – Run
Masukan perintah cmd lalu enter

http://prayitno.org/reload2/4/HX50_files/image006.jpg 






Ketik perintah ipconfig lalu enter.
 http://prayitno.org/reload2/4/HX50_files/image008.jpg

2.  Lakukan Ping ke IP perangkat HX50 dengan mempergunakan Command  ping 192.168.0.1 (seperti contoh di bawah) :
 http://prayitno.org/reload2/4/HX50_files/image010.jpg

 3. Setelah ping berhasil, lakukan telnet ke IP HX50 pada port 1953 agar kita bisa configure Remote tersebut :
 http://prayitno.org/reload2/4/HX50_files/image012.jpg

Tekan ENTER maka akan masuk ke Main Menu Modem HX50 :
 http://prayitno.org/reload2/4/HX50_files/image014.jpg

4. Main Menu :
 http://prayitno.org/reload2/4/HX50_files/image016.jpg

5. Melihat Serial CAC Modem :
 http://prayitno.org/reload2/4/HX50_files/image018.jpg

Informasikan serial ESN tersebut ke Hub NOC Anda dan kemudian mintalah VSAT Management IP Address  Remote yang akan kita pasang.

6. Setting Modem :
 http://prayitno.org/reload2/4/HX50_files/image019.jpg

Mintalah konfigurasi modem Hughes HX50 yang akan kita masukan kepada HUB NOC anda.

Contoh pengisian parameter modem Hughes HX50 :

Main Menu:
 (a)  Configure Boot Parameters
 (b)  Display Current Configuration
 (c)  Display Satellite Interface Statistics
 (d)  Display Active Routing Table
 (f)  Run Software Download Monitor
 (h)  Display Reset History
 (i)  Installation

 (pc) (Parameter Clear)     Clear Configuration
 (pw) (Parameter Write)     Write Configuration
 (rr) (Gateway Reset)       Reset the Gateway
 (rd) (Gateway Deconfigure) Force Download and Acquire New Keys
 (z)  Logout

Main Menu (<?/CR> for options): a

Type \ followed by <CR> at any time to return to the main menu
Type - followed by <CR> to go back one parameter

VSAT Return Path (1 = Receive Only, 2 = Inroute, 3 = LAN1, 4 = LAN2) <2>: 2

Satellite Longitude degrees <99>: XXX

Satellite Hemisphere (0 = East, 1 = West) <1>: X

VSAT Longitude degrees <77>: XXX

VSAT Longitude minutes <18>: XXX

VSAT Longitude Hemisphere (0 = East, 1 = West) <1>: X

VSAT Latitude degrees <39>: X

VSAT Latitude minutes <8>: XX

VSAT Latitude Hemisphere (2 = North, 3 = South) <2>: X

Satellite Channel Frequency <13300 x100Khz>: XXXXX

Receive Symbol Rate <22000000 Sps>: XXXXXXX

Frequency Band / Modulation (? For Options) <1>: X

Rx Polarization (0 = Vertical. 1 = Horizontal) <1>:X

Tx Polarization (0 = Horizontal. 1 = Vertical) <0>:X

LNB 22KHz Switch (0 = Off. 1 = On) <0>:X

DVB Mode (1 = DVB-S, 2 = DVB-S2-CCM, 3 = DVB-S2-ACM) <1>: X

DVB Program Num for user data <0>: XXXXX

DVB Program Num for DNCC data <0>: XXXXX

LAN1 IP Address <0.0.0.0>: XXX.XXX.XXX.XXX

LAN1 Subnet Mask <255.255.255.0>: XXX.XXX.XXX.XXX

LAN2 IP Address <0.0.0.0>:

LAN2 Subnet Mask <255.255.255.0>:

Number of Static Routes in Routing Table <0>:

IP Gateway IP Address <100.100.100.100>: XXX.XXX.XXX.XXX

SDL Control Channel Multicast IP Address <224.0.1.4>: XXX.XXX.XXX.XXX

VSAT Management IP Address <10.0.0.0>: XXX.XXX.XXX.XXX ( dari HUB NOC )

Default Gateway (meaningful for LAN return path only) <10.0.0.10>: XXX.XXX.XXX.XXX

Main Menu (<?/CR> for options): pw
Writing the configuration file may reboot this VSAT

Write Configuration - Are you sure? (y/n): y

Main Menu (<?/CR> for options):

MODEM AKAN REBOOT.

7.Melihat konfigurasi yang telah di isi :
 http://prayitno.org/reload2/4/HX50_files/image021.jpg

8. Antena Pointing :

Lakukan Pointing Antena / arahkan Antena ke Satellite yang akan digunakan sampai nilai SQF di pojok kiri bawah hingga Maksimal dengan (dengan merubah AZIMUT, ELEVASI dan memutar POLARIZATION/FEEDHORN).

Menu Pointing :
http://prayitno.org/reload2/4/HX50_files/image023.jpg

Setelah kita dapat Pointing dan hasilnya maksimal ( nilai SQF naik menjadi lebih kurang 85 sampai dengan 91 ) , untuk melakukan CROSSPOLE HUBUNGI HUB NOC anda , untuk C/W dari remote di lakukan melalui HUB NOC,
Setelah NOC menyatakan bahwa Remote tersebut sudah C/W langsung koordinasi dengan pihak pengontrol satelite untuk melakukan proses Crosspole.

Lakukan pergerakan Antena sebagai mana kita melakukan Crosspole biasanya.
Setelah nilai yang di capai sudah berhasil ( contoh CPI berkisar 35 sd 40 dB).
Mintalah Remote tersebut di normalkan kembali.

Setelah Crosspole berhasil dan remote sudah di normalkan kembali,
Masuk ke Main Menu seperti gambar di bawah ini kemudian lakukan Ranging pada Menu I (Installation)

 Gambar pada saat Ranging :
 http://prayitno.org/reload2/4/HX50_files/image025.jpg

Gambar setelah berhasil ranging :
 http://prayitno.org/reload2/4/HX50_files/image027.jpg
  
Statistics :
http://prayitno.org/reload2/4/HX50_files/image029.jpg

10. Modem setelah Complete download :
http://prayitno.org/reload2/4/HX50_files/image031.jpg

Status PEP Connected :
 http://prayitno.org/reload2/4/HX50_files/image033.jpg

Samakan Network LAN PC dengan konfigurasi IP LAN1 Modem sesuai dengan IP yang dipergunakan. Maka IP modem akan menjadi IP Gateway untuk semua PC atau komputer network lokal.

Lakukan pengetsan ping ke salah satu IP yang aktif disisi HUB cebtral NOC anda.

Hal yang harus diperhatikan : 
  1. Tegangan listrik harus stabil (220 Volt). apabila perlu gunakan tambahan perangkat Stavolt atau UPS.
  2. Tegangan Neutral dengan Grounding harus di bawah 1 Volt AC
  3. Penempatan Antena pada permukaan yang datar (tiang antena harus vertical)
  4. Arah Antena ke Satelite tidak boleh terhalang apapun
  5. Antena harus di hubungkan ke grounding
  6. Referensi Untuk Pointing Antena Ke Arah Satelit yang dituju dengan berpatokan pada nilai Elevasi dan Azimuth Posisi Antena VSAT/St Bumi
  7. Pemasangan F Connector indoor dan Outdoor harus sesuai dengan procedure.
  8. Modem harus ditempatkan pada suhu ruangan yang sejuk tidak boleh panas.
  9. Selalu koordinasi dengan  HUB NOC pada saat Pemasangan.